Sabtu, 07 Februari 2009

PERMAINAN ANAK

Permainan Anak
Oleh: AsianBrain.com Content Team

"Permainan anak tidak terlepas dengan masa kanak-kanak yang indah dan menggembirakan."
--Filosof Anak--

Apabila kita ditanya tentang masa kanak-kanak, tentu kita akan dengan suka cita menceritakan berbagai pengalaman menyenangkan yang pernah dialami.

Semuanya begitu indah dan menggembirakan. Mengapa demikian? Karena masa kanak-kanak adalah masa bermain. Hampir atau bahkan semua aktivitas anak-anak adalah bermain!

Namun masih ada orang tua yang beranggapan bahwa bermain adalah aktivitas membuang-buang waktu. Mereka lebih suka melihat anaknya belajar dengan duduk rapih tanpa keributan, daripada bergerak (moving) dan bersuara (noice).
Bermain cara efektif untuk belajar
Padahal, jika semua orangtua tahu dan menyadari bahwa aktivitas gerak dan suara anak (bisa disebut bemain) adalah cara yang paling efektif untuk anak belajar sesuatu. Sebab, bermain merupakan aktivitas yang menyenangkan bagi anak.

Lewat permainan, anak akan mengalami rasa bahagia. Dengan perasaan suka cita itulah syaraf/neuron di otak anak dengan cepat saling berkoneksi untuk membentuk satu memori baru. Itulah sebabnya mengapa anak-anak dengan mudah belajar sesuatu melalui permainan.
Perlunya bermain
• Belajar dari permainan (Learning by playing)
Permainan seharusnya memiliki nilai seimbang dengan belajar. Anak dapat belajar melalui permainan (learning by playing). Banyak hal yang dapat anak pelajari dengan permainan, keimbangan antara motorik halus dan motorik kasar sangat memengaruhi perkembangan psikologi anak. Seperti kata Reamonn O Donnchadha dalam bukunya The Confident Child "Permainan akan memberi kesempatan untuk belajar menghadapi situasi kehidupan pribadi sekaligus belajar memecahkan masalah".
• Permainan mengembangkan otak kanan
Disamping itu tentu saja anak mempunyai kesempatan untuk menguji kemampuan dirinya berhadapan dengan teman sebayanya dan mengembangkan perasaan realistis akan dirinya. Bermain melalui permaianan memberi kesempatan pada anak untuk mengembangkan otak kanan, kemampuan yang mungkin kurang terasah di sekolah maupun di rumah.
• Permainan mengembangkan pola sosialisasi dan emosi anak Dalam permainan kelompok, anak belajar tentang sosialisasi yang menenpatkan dirinya sebagai mahluk sosial. Anak mempelajari nilai keberhasilan pribadi ketika berhasil memasuki suatu kelompok. Ketika anak memainkan peran "baik" atau "jahat" membuat anak kaya akan pengalaman emosi, anak akan memahami perasaan yang terkait dari ketakutan dan penolakan dari situasi yang dia hadapi.

Dengan kegiatan bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk mempraktikkan rasa percayanya kepada orang lain dan kemampuan dalam bernegosiasi, memecahkan masalah (problem solving) atau sekedar bergaul dengan orang sekitarnya.
Jenis permainan
Pada dasarnya, semua jenis permainan mempunyai tujuan yang sama yaitu bermain dengan menyenangkan! Yang membedakan adalah pengaruh atau efek dari jenis permainan tersebut. Ada dua jenis permainan, yaitu: Permainan Aktif dan Permainan Pasif. Permainan aktif dan pasif iini hendaknya dilakukan dengan seimbang.
• Permainan olah raga (sport):
Bagi orang dewas, olah raga bukan lagi menjadi sebuah permainan tetapi sesuatu yang serius dan kompetitif. Namun bagi anak, olah raga bisa menjadi satu permainan yang menyenangkan yang mengandung kesenangan, hiburan, dan bermain, tetapi tidak juga terlepas dari unsur partisipatif dan keinginan untuk unggul.

Dalam permainan olah raga anak mengembangkan kemampuan kinestetik dan pengembangan motivasi untuk menunjukkan keungulan dirinya (penekanan bukan pada persaingan tapi pada kemampuan) memberi kekuatan pada dirinya sendiri serta belajar mengembangkan diri setiap waktu.
• Permainan perkelahian (body contact):
Jenis permainan ini termasuk permainan modern, tapi banyak orang tua maupun guru memandangnya skeptic dan cemas, ini beralasan dari efek yang mungkin serius. Permainan ini merupakan jenis permainan modifikasi yang menuntut keseriusan anak untuk memenuhi kebutuhan akan kekuasaan.

Hal tersebut sehat dan positf bagi anak, berguna untuk menguji keunggulan dan kekuatan di lingkungan sekitar. Jenis permainan ini adalah untuk menguji kemampuan dan pemikiran anak dalam dunia nyata dengan segala akibatnya.
Katagori permainan pasif
• Permainan mekanis
Seiring perkembangan, jaman dan teknologi memberi pengaruh besar dalam perkembangan jenis permainan untuk anak. Alat teknologi canggih seperti komputer bukan lagi milik orang dewasa, tapi telah menjadi barang biasa buat anak-anak.

Berbagai games atau permainan virtual telah tersedia di dalamnya (computer). Bermain computer tidak sama dengan bermain bersama teman, anak bermain sendiri dengan kesenangannya.

Sisi negatif
Sisi negatif permainan mekanis ini adalah kurangnya pembentukan sikap anak untuk menerima dan memberi (take and give). Anak memegang kendali penuh atas "teman mainnya" dan "si teman mainnya" akan melakukan apapun yang diinginkan anak. Kendali penuh ini akan menimbulkan reaksi serius bila anak menyalurkannya dalam pertemanan di lingkungan sosialnya.

Sisi positif Namun, hal positif anak memiliki keterampilan komputer yang akan diperlukan anak sebagai sarana hidupnya.
• Permainan fantasi
Fantasi merupakan praktik permainan yang khusus dilakukan sendiri. Anak dapat membentuk dunia sesuai dengan keinginannya (imaginasi).Sebaiknya, orang tua tidak memaksa anak untuk selalu bermain dengan teman-temannya karena akan menciptakan kesan bahwa bermain sendiri itu salah.

Permainan fantasi selain proses kreatif mengembagkan kemampuan sisi otak kanan, juga untuk pembentukan kecerdasan interpersonal (salah satu dari delapan kecerdasan teori multiple intelligence, Howard Garner)

Kamis, 08 Januari 2009

Bolehkah Bayi Diberi Makan Terlalu Cepat?

Bolehkah Bayi Diberi Makan Terlalu Cepat?
Posted: 24 Dec 2008 12:01 AM CST
Kadang sebagai orang tua yang sayang terhadap anaknya, sering kali ingin melakukan yang terbaik untuk anaknya, contohnya bayi yang baru berumur 40 hari sudah diberi buah-buahan yang dihaluskan, dengan harapan bayi ini cepat tumbuh besar dan kuat karena sejak dini sudah terbiasa diberi makanan yang seharusnya belum bisa dikonsumsi. Bahkan ada sebagian orang tua muda yang salah anggapan yaitu jika anaknya dibiasakan makan sejak dini ( maksudnya masih baru berumur dibawah 4 bulan ), maka nantinya pencernaannya akan kuat dan jarang sakit karena sudah kebal atau kuat karena terbiasa diberi makanan sejak berusia dini. Apakah anggapan seperti ini benar?

Ada juga yang berpendapat bahwa asal makanan yang diberikan di blender dulu sampai halus tidak apa-apa, kan sama juga dengan susu yang biasa diminun, ada juga yang berpendapat asal buahnya yang diberikan tidak terlalu keras tidak apa-apa, seperti pisang, pepaya yang dikerok sampai halus, juga untuk sayuran asal yang diberikan bukan sayuran yang berserat tinggi tidak apa-apa. Bahkan ada juga yang anaknya yang baru berusia 3 bulan sudah diberi daging bakso yang dicacah, karena dulu orang tuanya juga diberi menu demikian dan tidak apa-apa sampai sekarang.

Kadang kita harus pintar-pintar memilih nasehat dari orang tua kita yang sering kali memberi nasehat agar cucunya cepat besar, ada nasehat yang bisa diterapkan tetapi ada juga yang tidak bisa diterapkan pada anak kita, contohnya yang seperti diatas (diberi makan daging bakso). Trus yang baik dan benar yang seperti apa ?
Bayi yang baru lahir sampai usia beberapa bulan biasanya hanya mengandalkan instingnya dan belum siap untuk belajar. Contohnya adalah insting menghisap ini adalah wajar terjadi pada bayi, sehingga dia akan menghisap setiap benda yang ditemuinya (ini sesuai dengan tahap perkembangan bayi pada tahap fase oral), sedangkan pemberian makanan padat (makanan yang dihaluskan) terlalu dini tidak bermanfaat sama sekali untuk bayi karena dia harus belajar untuk menelan makanan padat tersebut. Selain itu untuk menelan makanan tadi diperlukan otot rahang dan tenggorokan yang kuat, sedangkan bayi tadi jelas belum mampu. Kemudian jumlah kapasitas pencernaan, enzim pencernaan, dan kemampuan metabolisme bayi tidak memungkinkan untuk diberi makanan padat selain susu. Meskipun sudah dihaluskan hingga tampak seperti susu, makanan lain juga sangat tidak disarankan. Kemudian umur berapa yang paling tepat untuk diberikan makanan tambahan selain susu, umur yang paling tepat adalah umur 6 bulan, karena pada umur ini pencernaan bayi sudah siap untuk menerima makanan tambahan lain yang bervariasi. Pada usia ini bayi sudah bisa belajar, sehingga dia akan belajar untuk makan dan menelan lebih cepat. Diharapkan dengan semakin cepatnya bayi ini makan dan menelan, tidak akan terjadi susah makan dikemudian hari.